Dampingi Psikologis Anak, Jumlah Pelecehan di Kabupaten Bogor Capai 23 Kasus

Dua kakek berinisial E (65) dan S (50), pelaku pencabulan terhadap seorang anak perempuan berusia delapan tahun di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, saat berada di Mako Polres Bogor. Khaerul Umam | Pakar

CIBINONG – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bogor, mencatat kasus pelecehan seksual dan buli terhadap anak sepanjang tahun ini sebanyak 23 kasus.

“Hingga April ini ada 23 kasus yang menimpa kepada anak. Jumlahnya meningkat dibanding sebelumnya di periode yang sama yang ada di bawah jumlah tersebut,” ungkap Kabid Kesejahteraan dan Perlindungan Anak DP3P2KB, Sudiyanta kepada wartawan, Sabtu (24/3/2021).

Teranyar, kasus pelecehan atau pencabulan terjadi menimpa seorang anak perempuan berusia delapan tahun di Kecamatan Ciseeng, dan kasus buli terhadap anak laki-laki berusia 10 tahun bernama Egi di Kecamatan Klapanunggal.

Kedua kasus tersebut kini dalam pendampingan DP3P2KB Kabupaten Bogor beserta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan TP2A Satreskrim Polres Bogor.

“Pendampingan yang dilakukan lebih kepada pendampingan psikologis untuk mengurangi rasa trauma kepada anak-anak,” jelas Sudiyanta.

Diketahui sebelumnya, dua kasus kekerasan baik pencabulan ataupun buli terjadi di wilayah Kabupaten Bogor.

Kedua kasus tersebut kini sudah ditangani Polres Bogor. Satu pelaku dari kasus pembulian di Kecamatan Klapanunggal berinisial AS (29) sudah melakukan mediasi dengan pihak keluarga anak bernama Egi dan berujung damai.

“Tidak ada tuntutan apapun dari pihak keluarga korban setelah dilakukan mediasi. Sehingga perkara ini sementara kita sesuaikan dengan kejadiannya,” ungkap Kapolres Bogor, AKBP Harun.

Sementara untuk kasus pencabulan, dua pelaku berinisial E (65) dan S (50) kini menjadi tahanan Polres Bogor. Kedua pria sepuh tersebut diancam hukuman penjara maksimal 15 tahun sesuai undang-undang yang berlaku.

“Kedua pelaku dijerat dengan pasal yang sama yakni Pasal 82 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancamannya minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun,” jelas Harun. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.