Cenderung Dukung Jaro Ade Ketimbang Iwan, Pengamat : Ada Kemauan Politik dari Demokrat Tapi KIM Tetap Solid

Pengamat Politik dari Universitas Djuanda (Unida) Bogor, Gotfridus Goris Seran. IST

CIBINONG – Pengamat Politik dari Universitas Djuanda (Unida) Bogor,
Gotfridus Goris Seran menyoroti
sikap politik yang ditunjukkan Demokrat dengan melakukan MoU bersama Golkar dan PAN usai deklarasi koalisi dengan Gerindra belum lama ini.

Seran menilai bahwa apa yang terjadi hari ini merupakan sebuah dinamika politik. Sebab, masing-masing partai memiliki kepentingan demi memenangkan kontestasi Pilkada 2024 di Kabupaten Bogor.

“Sikap politik Demokrat yang awal mula dengan Gerindra dan kemudian dengan Golkar (dan PAN) dapat dibaca sebagai langkah membangun komunikasi sekaligus menjajaki ‘kemauan politik’ masing-masing. Jadi tidak dimaknai satu pihak mengingkari atau meninggalkan pihak lain karena sifatnya masih dinamis dalam membangun koalisi menuju Pilbup Bogor 2024,” kata Seran, Selasa 14 Mei 2024.

Dalam kondisi ini, Seran memaklumi ada sedikit hal yang menggangu Gerindra menjelang Pilkada. Sebab, meski mampu untuk maju secara mandiri, partai besutan Prabowo Subianto itu tetap menginginkan kekuatan lebih besar.

“Dalam konteks Pilbup Bogor 2024, Gerindra (12 kursi) sudah memenuhi syarat pencalonan 20 persen, bisa mengusung sendiri calon, Iwan Setiawan atau Rudy Susmanto. Hanya saja, koalisi dibangun untuk memperluas basis dukungan,” jelasnya.

Dengan bergabungnya Demokrat, Golkar dan PAN, maka hal ini akan menjadi warning bagi Gerindra yang saat ini merasa di atas angin.

Musabab, jika MoU yang dikabarkan untuk kepentingan Pilkada ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin akan mengancam gerakan Gerindra demi meraih kemenangan.

“Golkar (7 kursi) membutuhkan mitra partai lain dalam membangun koalisi. Sejak awal PAN (2 kursi) sudah menyatakan koalisi dengan Golkar.
Dengan bergabungnya Demokrat (6 kursi), koalisi yang dibangun Golkar sudah memenuhi syarat pencalonan dengan Jaro Ade adalah satu-satunya figur calon yang (kabarnya) sudah direkomendasikan DPP,” beber Seran.

Kendati demikian, Seran melihat tidak ada sebuah pengkhianatan dalam kondisi ini. Sebab, keempat partai tersebut merupakan partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Artinya, kata dia, ketika di antara mereka memenangkan Pilkada, maka KIM di tataran pusat akan tetap solid.

“Ada semangat kebersamaan yang dibangun semua mitra koalisi (semacam konsensus DPP) di KIM (nasional). Silahkan Gerindra mengusung calonnya. Silahkan Golkar bertarung dalam pilkada. Siapapun yang menang, KIM tetap solid. Tentu ini terkait dengan pemerintahan baru nanti, Prabowo ingin memperkuat kekuasaan dan pemerintahan hingga ke daerah, termasuk menang dalam Pilkada Kabupaten Bogor,” tegas Seran.

Sebelumnya diberitakan, sikap politik yang ditunjukkan Demokrat dengan melakukan MoU bersama Golkar dan PAN untuk kepentingan Pilkada 2024 di Kabupaten Bogor, mengusik ketenangan Gerindra.

MoU yang dikabarkan sebagai komitmen mendukung Jaro Ade pada Pilkada membuat Gerindra membuka kemungkinan untuk keluar dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) seperti apa yang diminta pusat.

Ketua DPC Gerindra Kabupaten Bogor sekaligus salah satu calon kuat dalam Pilkada, Iwan Setiawan sesumbar akan hal tersebut.

Dia menegaskan bahwa Gerindra bisa maju sendiri tanpa dukungan partai lain pada Pilkada 2024 di Kabupaten Bogor dengan modal raihan 12 kursi di parlemen. Meski diakuinya MoU yang dilakukan Demokrat itu terjadi setelah deklarasi koalisi bersama Gerindra.

“Istilahnya kalau Gerindra kan tenang-tenang saja. Tidak takut ditinggal seluruh partai. Karena bisa mencalonkan sendiri. Tapi karena Pilkada ini adalah figur, dan kami juga diharuskan melakukan silaturahmi dan koalisi dengan berbagai partai,” kata Iwan. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.