Bupati Cianjur Minta Semua Pihak Bantu Tangani Kasus Stunting

Bupati Cianjur H. Herman Suherman saat berkolabirasi dalam kegiatan penagangan kasus stunting di Bale Prayoga lingkungan Pemkab Canjur. Esya | Pakar

CIANJUR—Penanganan kasus stunting difokuskan ditangani Dinas Pengendalian Pendududk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Cianjur dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, bersama organisas perangkat daerah (OPD) lainnya. Pasalnya, berdasarkan data pada 2021, prevalensi angka kasus stunting di wilayah tersebut masih cukup tinggi.


Kepala DP2KBP3A Kabupaten Cianjur, Heri Suparjo, membenarkan untuk membantu percepatan penurunan angka kasus stunting, diwilayah Kabupaten Cianjur. Bahkan pihaknya telah membentuk sebanyak 1.908 tenaga pendamping keluarga (TPK).


“Dari satu tenaga pendamping keluaga (TPK) terdiri dari tiga orang yakni bidan/ahli gizi, kader PKK, serta kader KB. Memang jika dijumlahkan, jumlah dari rekrutmen TPK tersebut, ada sebanyak 5.724 orang untuk kebutuhan TPK,”kata Kepala DP2KBP3A Kabupaten Cianjur Heri didampingi Kepala Bidang (Kabd) PKK DP2KBP3A, Atik Sartika kepada wartawan Jumat (13/5/2022).


Sementara itu, Bupati Cianjur, H Herman Suherman, mengaku jika pihaknya telah menginstruksikan perangkat daerah teknis agar berkontribusi terhadap upaya penurunan angka kasus stunting. Dalihnya, kasus stunting konteksnya tidak hanya soal kesehatan, tapi juga sektor lainnya.


“Untuk penanganan kasus stunting tersebut, bukan hanya tugas DP2KBP3A dan Dinas Kesehatan saja, tapi semua OPD (organisasi perangkat daerah). Pasalnya penanganan stunting ini, harus dilakukan secara keroyokan,” tegas Herman.


Menurutnya, penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif. Selain kesehatan, lanjut Herman, harus diperhatikan juga sektor ekonomi keluarga, infrastruktur hunian keluarga, pemenuhan asupan gizi, pendidikan, dan lainnya.”Misalnya infrastruktur rumah masyarakat, apakah sejauh ini sudah memiliki jamban atau belum, apakah infrastuktur jalannya sudah memadai atau belum. Jadi penanganannya harus melibatkan semua OPD,” tegasnya.


Prevalensi angka kasus stunting, lanjut Herman, di Kabupaten Cianjur berada di kisaran 33,7%. Tahun ini ditargetkan bisa turun menjadi 20,23%. Namun, dirinya meyakini, jika soliditas dan kolaborasi dsri semua OPD di Kabupaten Cianjur akan berdampak besar terhadap penurunan angka kasus stunting. “Nasib Kabupaten Cianjur ke depan ditentukan tumbuh kembang anak-anak. Kalau sekarang anak-anak asupan gizinya kurang bagus, dampaknya akan dirasakan ke depan. Kuncinya, stunting harus tuntas,” ujarnya.


Stunting identik dengan angka kemiskinan. Pasalnya, mayoritas anak yang mengalami stunting berasal dari keluarga kurang mampu. “Tapi ada juga anak yang mengalami stunting dari keluarga mampu. Bisa jadi karena kurangnya perhatian orangtua dan lainnya. Makanya, 1.000 hari usia anak itu yang menjadi hal penting tumbuh kembang anak,” terangnya.


Sebenarnya, kata Herman, peran serta Kantor Urusan Agama (KUA) itu juga sangat penting mencegah terjadinya kasus stunting. Mereka bisa memberikan advis kepada para calon pengantin, misalnya usai pernikahan betul-betul ideal serta ditunjang ekonomi yang cukup dan lainnya. “Tujuannya agar nanti bisa melahirkan anak yang sehat. Ending-nya, anak-anak yang lahir di Kabupaten Cianjur dalam kondisi sehat serta pertumbuhannya bisa menjadi anak cerdas dan pintar dari keilmuan serta berakhlak mulia sesuai visi dan misi maju, mandiri, religius, dan berakhlak mulia,” pungkasnya. SYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.