Bantuan Lambat Diterima Korban Gempa, Ini Penyebabnya

CIANJUR – Banyaknya donatur dan relawan dari Cianjur dan luar kota yang bergerak sendiri masuk ke lokasi gempa di wilayah Cugenang menyebab beberapa akses jalan menuju lokasi bencana mengalami kemacetan.

Pemandangan tersebut sering terlihat sejak pagi hingga sore hari di jalur menuju lokasi bencana. Akses yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari kawasan kota Cianjur menuju lokasi bencana, saat ini ditempuh bisa satu jam lebih karena jalan kecil dan sangat riskan jika dua kendaraan besar seperti truk datang berpapasan.

Kepadatan di jalan-jalan tikus pun sering terjadi mulai dari Cangklek, Sukamanah, Gasol, Nagrak, Benjot, dan sekitarnya. “Jika seperti ini bantuan akan lambat sampai ke lokasi, terutama akan menghalangi ambulans yang membawa korban gempa,” ujar Ginanjar (30) seorang warga yang hendak menuju rumah kakeknya yang berada di posko pengungsian Desa Sarampad Cugenang.

Ginanjar mengatakan, ia berangkat dari Cianjur kota sekitar pukul 17.00 WIB dan sampai ke lokasi bencana pukul 18.30 WIB. “Biasanya cuma 30 menit juga sampai,” katanya.

Imbauan agar relawan dan donatur tak bergerak sendiri juga disampaikan oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto. Suharyanto menuturkan, para donatur yang akan memberikan sumbangan bisa langsung ke Posko yang sudah disediakan di Pendopo Pemkab Cianjur.

“Karena kita ketahui lokasinya, daerah bencana ini numpuk dan macet keluhan pasukan evakuasi tidak bisa bergerak leluasa karena terhambat,” katanya.

Suharyanto mengatakan, banyak warga bukan yang terdampak melainkan yang datang dari luar kota seolah bencana ini jadi tontonan. Hal tersebut, tentu saja mengganggu penanganan proses korban terdampak gempa. “Hal ini akan segera ditertibkan, mohon disampaikan bukan menghambat akses, tapi ini demi masyarakat yang mengungsi,” katanya.

Fakta ditemukan banyak posko tenda darurat yang kesulitan air, padahal di kawasan kota banyak tangki bantuan air bersih. “Masih tertahan di bawah karena tidak bisa naik ke atas terhambat macet dan penumpukkan kendaraan,” katanya.

Sebuah alat berat terlihat mulai menyisir dan membersihkan reruntuhan bangunan yang masuk ke jalan Nagrak-Cugenang, Rabu (23/11/2022) malam.

Sepanjang jalur dari Nagrak menuju Cugenang masih banyak warga yang tinggal di tenda darurat dekat rumah dengan terpal seadanya. Mereka belum bergerak ke tenda utama besar yang disediakan BNPB. Tentu hal tersebut juga membuat distribusi logistik belum terfokus dan masih banyak warga terdampak yang tinggal di tenda darurat dekat rumah yang belum tersentuh bangunan.

Untuk yang masih tinggal di tenda darurat sekitar rumah yang rusak, BNPB akan membujuk mereka ke tempat pengungsian utama yang sudah disiapkan.

“Kalau tidak juga kami akan membantu menyiapkan tenda yang lebih baik, logistik agar tertib di gedung BPBD dan di gedung wanita, semua logistik diharapkan melalui posko utama depan utama kemudian loslgistik disimpan di gudang BPBD dan gedung wanita, setiap pukul 08.00 WIB, para camat sudah mengajukan kebutuhan di masing kecamatan, dari Dishub, TNI, Polri dan semua terlibat menyiapkan armada truk jadi logistik pagi segera didorong kecamatan masing-masing, dan Bhabinkamtibmas segera distribusikan ke tempat masing-masing jadi tidak ada yang mendapatkan logistik berlebihan,” kata Suharyanto. NDI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.