Bahas Soal Ganjil-genap, Puncak Ngahiji Beri Usulan Pada Kemenhub

Penerapan uji coba ganjil genap di Gadog, akhir pekan kemarin. Prayoga | Pakar

CIBINONG – Rencana penerapan ganjil-genap di kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor secara permanen, masih terus dibahas. Kemarin, perwakilan warga yang mengatasnamakan Puncak Ngahiji menggelar pertemuan di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Jakarta.

Juru bicara Puncak Ngahiji, Azet Basuni mengatakan, pertemuan tersebut digelar sebagai tindaklanjut pembahasan yang telah dilakukan pihaknya bersama Pemkab Bogor dan Kemenhub yang diwakili Dirjen Perhubungan Darat, di Pendopo Bupati, Cibinong, Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan itu, kata Azet, pihaknya mengusulkan beberapa poin yang diharapkan menjadi pertimbangan petugas sebelum menerapkan sistem ganjil-genap tersebut.

Di antaranya peniadaan one way saat pelaksanaan ganjil-genap pada Sabtu dan Minggu untuk arus pengunjung.

“Namun kami minta hal itu terbalik. Saat arus balik wisatawan dari Puncak, kami ingin one way tetap diterapkan menyesuaikan kondisi di lapangan pada hari Sabtu dan Minggu,” kata Azet, Rabu (15/9/2021).

Selain itu, pada pertemuan yang juga dihadiri perwakilan Polres Bogor, Polresta Bogor Kota, Polres Sukabumi dan Cianjur serta Korlantas Polri tersebut, Puncak Ngahiji juga mengusulkan jam operasional check point kendaraan di lapangan.

Azet menyebut, check point yang tadinya di mulai pada Jumat pagi, diusulkan berlaku pada Jumat pukul 14:00 WIB sampai dengan keadaan pengunjung normal.

“Lalu pemberlakuan one way sore hari pada arus balik tidak ada check point ganjil-genap. Terutama untuk masyarakat Ciawi, megamendung dan Cisarua yang dibenaskan beraktivitas di Jalur Puncak. Begitu juga dengan warga Caringin, Cigomong, Cijeruk serta Tamansari yang masuk ke dalam bagian wilayah selatan direkomendasikan boleh melintasi Jalur Puncak dengan menunjukkan KTP atau SIM,” jelas Azet.

“Kami juga minta angkutan umum Bogor-Cisarua terbebas dari pemeriksaan ganjil-genap,” kata Azet menekankan.

Disamping itu, Puncak Ngahiji meminta tidak ada kendaraan yang diistimewakan saat memasuki Jalur Puncak ketika aturan tersebut dilakukan. Terutama rombongan motor gede atau moge yang seringkali dijumpai dikawal dengan baik saat masuk kawasan wisata tersebut.

Begitu juga dengan wacana penerapan 4 in 1 yang diminta untuk dihapuskan dalam draft rancangan peraturan ganjil-genap Puncak.

“Pembahasan ini belum final, akan ada pertemuan lanjutan bersama Pemkab Bogpr dengan beberapa kementerian salah satunya Kemenhumkam. Yang jelas semua ke Inginan kami sudah disampaikan,” tegas Azet.

Sementara, Bupati Ade Yasin berharap ada kajian yang komprehensif yang dilakukan Kemenhub sebelum memutuskan secara permanen aturan ganjil-genap di kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor.

“Karena di Puncak itu ada potensi ekonomi, pariwisata dan lain-lain. Sehingga kami berharap ada kajian komprehensif agar potensi-potensi yang ada itu bisa berjalan bersamaan,” kata Ade Yasin.

Namun demikian, dia mengaku sedikit lega karena Kemenhub mendengarkan semua aduan masyarakat Puncak.

Pada pertemuan bersama dengan masyarakat yang menamakan Puncak Ngahiji, semua aduan dan masukan diterima. Ade Yasin memastikan jika hal itu akan menjadi pertimbangan Kemenhub untuk memutuskan kebijakan ganjil-genap.

“Alhamdulilah ini diterima dengan baik oleh Kemenhub, oleh Pak Dirjen. Alhamdulillah juga pusat bottom up, mendengar dari bawah sebelum memutuskan,” jelas Ade Yasin.=MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.