Alih Fungsi Lahan Makin Banyak, Puncak Jadi Sorotan Penertiban

Ilustrasi alih fungsi lahan. IST

CIBINONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor kembali merencanakan
penataan wilayah termasuk di kawasan wisata Puncak. Mulai dari penertiban pedagang kaki lima (PKL) hingga bangunan-bangunan liar di wilayah tersebut.

Pj Bupati Bogor, Asmawa Tosepu mengatakan, penataan kawasan wisata Puncak tengah dilakukan. Terlebih Rest Area untuk para PKL di wilayah tersebut telah disiapkan.
“Pemkab Bogor meminta kesadaran para pemilik warung pedagang kaki lima untuk segera pindah ke tempat yang telah disiapkan di rest area,” ujar Asmawa kepada wartawan, Minggu (28/4/2024).

Penertiban dan penataan kawasan wisata Puncak ini juga akan dibarengi dengan pengesahan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) menjadi peraturan daerah (Perda).

Menurut Asmawa, Perda RTRW akan menguatkan rencana Pemkab Bogor untuk juga menertibkan bangunan liar yang saat ini semakin pesat di Kabupaten Bogor khususnya di Puncak tersebut.

“Pertumbuhan pesat kawasan perkotaan menjadi semakin merajalela dengan munculnya perumahan, yang menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi penting di wilayah ini,” jelasnya.

Selain itu, penertiban juga akan dilakukan terhadap villa, pedagang kaki lima, dan bangunan-bangunan lain yang melanggar ketentuan. Langkah ini akan diikuti dengan sosialisasi kepada para pemilik bangunan terlebih dahulu sebelum pelaksanaannya.

“Bangunan liar yang tidak sesuai dengan peraturan atau tidak memiliki izin mendirikan bangunan akan ditertibkan,” tegasnya.

Dengan ditetapkan Perda, lanjut Asmawa, nantinya batasan-batasan akan diberlakukan terhadap beberapa jenis bangunan, termasuk perumahan, untuk memastikan penggunaan lahan kembali sesuai dengan fungsinya, terutama dalam mendukung sektor pertanian.

“Dalam revisi tata ruang ini, kami akan mengalihkan fungsi lahan kembali ke pertanian, sehingga bisa memperlambat laju urbanisasi yang berlebihan,” jelasnya.

Penataan wilayah Puncak ini sebelumnya juga menjadi perhatian Menteri ATR/BPN, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat mengunjungi kawasan tersebut belum lama ini.

“Puncak ini kan jalur klasik, dari dulu saya kecil, tentara banyak juga menggunakan jalur ini sebelum ada Tol Cipularang, jadi kalau ke Bandung pasti lewat sini, balik ke jakarta juga lewat jalur ini,” kata AHY.

Namun dia menilai banyak yang berubah di kawasan wisata Puncak. Utama ya soal alig fungsi, bangunan liar hingga PKL yang membuat kawasan tersebut menjadi tidak tertata dengan baik.

“Harus lebih ditata lagi, apalagi kalau kita cek secara lebih detail, ada mungkin lokasi-lokasi yang belum diatur atau tertata dengan baik, karena ada yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Zonanya seharusnya sudah ditata sedemikian rupa, atas dasar penelitian terhadap kondisi lingkungan, jadi jangan sampai ada pembangunan yang bisa membahayakan karena bisa berdampak terhadap masyarakat di sekitar,” tegasnya.

AHY pun memastikan akan terus mempelajari kondisi kawasan wisata Puncak agar tetap menjadi primadona sebagai tempat wisata yang sejuk dan asri.

“Ini akan terus kita pelajari, akan kita cek, dan akan kita lakukan penertiban seperlunya sesuai dengan seharusnya kita tata dengan baik,” katanya.

“Saya juga mohon tentunya bekerja sama dengan pemerintah kabupaten di sekitar puncak ini, kita lihat nanti bagaimana yang masih berada di kawasan rawan bencana dan kita terus berikan pemahaman sebelum kita lakukan penertiban,” tandas AHY. =MAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.