Akankah Daging Sintesis Menjadi Solusi Sumber Pangan?

    Titik Handayani, Mahasiswa Magister Teknologi Pangan, Fateta, Institut Pertanian Bogor. IST

    POPULASI dunia semakin hari semakin meningkat. Populasi penduduk global mencapai 8,0 miliar pada pertengahan November 2022. Pada tahun 2050 diperkirakan menjadi 9,7 miliar, dengan peningkatan hampir 2 miliar orang dan 10,4 pada tahun 20100 (United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division, 2022).

    Pertumbuhan penduduk yang drastis ini menuntut adanya pemenuhan akan kebutuhan pangan. Proses produksi pangan memberikan dampak terhadap lingkungan. Dampak lingkungan yang terjadi berpengaruh terhadap penurunan kapasitas Bumi dalam memperbaharui sumber-sumber daya alam (Valoppi, et al., 2021).

    Grafik Populasi Global: Estimasi tahun 1950-2021, dan proyeksi sedang dengan interval prediksi 95%, 2022-2050. Sumber: (United Nations Population Division Data Portal, 2022)

    Penurunan kapasitas Bumi ini menyebabkan efisiensi produksi yang rendah. Sementara produksi pangan harus meningkat sebesar 70 % (Floros et al., 2010) untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia.

    Rendahnya efisiensi produksi memberi peluang besar bagi ilmu dan teknologi pangan untuk turut berperan dalam penyediaan pangan dunia. Dalam hal ini ilmu dan teknologi pangan dapat berperan dalam mendesain produk pangan baru yang efisien, berkelanjutan, ramah lingkungan, dan layak secara ekonomi.

    Produk makanan baru harus memiliki cukup gizi, dapat diterima secara budaya dan sosial, terjangkau secara ekonomi, serta enak. Selain itu, produk makanan harus bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatan konsumen.

    Strategi telah dirancang dan dikembangkan dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan meningkatkan restrukturisasi model industri makanan dengan tujuan untuk: meningkatkan produktivitas pertanian dan pemanfaatan sumber daya alam (pertanian vertikal dan modifikasi genetik), meningkatkan dan/atau menyesuaikan nilai gizi makanan (rekayasa genetika), menghasilkan alternatif makanan (pertanian seluler, edible insects, alga, mikroalga dan sumber serat baru), serta melindungi keanekaragaman hayati.

    Pertanian seluler adalah bidang yang muncul dengan potensi untuk meningkatkan produktivitas pangan secara lokal dengan menggunakan lebih sedikit sumber daya dan optimalisasi penggunaan lahan.

    Pertanian seluler berpotensi untuk menghasilkan berbagai jenis pangan dengan kandungan yang tinggi protein, lipid, dan serat. Pertanian seluler adalah metode produksi baru dimana sel hewan dibudidayakan secara in vitro untuk menghasilkan produk yang identik dengan daging, makanan laut, atau produk susu dari mana sel berasal. Pertanian seluler memiliki potensi untuk mengurangi dampak lingkungan dan biaya dibandingkan dengan industri peternakan yang ada. Selain itu, menarik perhatian sebagai teknologi untuk memproduksi protein alternatif.

    Salah satu penerapan pertanian seluler adalah kultur daging (daging sintesis) seperti sapi sebagai sumber protein hewani (Valoppi, et al., 2021). Kultur daging adalah salah satu teknologi yang menjanjikan sebagai sumber protein hewani. Kultur daging pada pertanian seluler harus memiliki nilai gizi, rasa, aroma, tekstur dan penampilan yang menyerupai daging pada umumnya.

    Sumber-sumber pangan baru dan makanan alternatif serta bahan makanan memerlukan persetujuan regulasi sebelum selanjutnya dikomersialisasi. Di Eropa, telah ada aturan penilaian keamanan pangan untuk makanan baru [Regulation (EU) 2015/2283]. Aspek penting seperti komposisi, stabilitas, alergenisitas, dan toksikologi harus dievaluasi untuk setiap makanan baru atau bahan makanan baru. Peraturan tersebut diberlakukan untuk menjamin bahwa makanan dan bahan-bahannya aman untuk dikonsumsi manusia.

    Pertanian Seluler Produk Daging Sapi
    Sumber: (Valoppi, et al., 2021)

    Proses Kultur Daging

    Daging sintesis merupakan hasil pertumbuhan serabut otot dalam kultur sel yang diambil dari sel induk (stem cells) atau sel punca. Tahapan membuat daging sintesis meliputi: tahap pre-kultur (ekstraksi) dengan cara biopsi yang selanjutnya diisolasi dan dipisahkan secara mekanik atau secara enzimatik.

    Kemudian sel induk (stem cells) diseleksi dan ditransfer ke dalam media biakan dan akan mengalami kultivasi sehingga tumbuh dan melipatgandakan diri (kloning). Proses ini dilakukan dalam bioreaktor yang berisi media cair yang mengandung nutrisi seperti protein, lemak, gula, mineral, dan vitamin yang dihubungkan dengan sumber udara. Dengan proses ini, maka produk daging yang dihasilkan dapat memiliki nutrisi tertentu sesuai yang diharapkan.

    Dari segi keamanan pangan, produk daging sintesis diproduksi dalam lingkungan yang steril, tidak ditambahkan antibiotik, jumlah dan jenis lemak yang dikontrol. Sehingga produk daging sintesis bebas dari cemaran mikroba, lebih sehat dan ramah lingkungan dibandingkan daging konvensional. Oleh karena itu, daging sintesis dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan menyehatkan.

    Salah satu negara yang telah memasukkan pertanian seluler ke dalam kebijakan ketahanan pangan dengan tujuan swasembada pangan adalah Singapura (Kawamura, 2022). Singapore Food Agency (SFA) mengharapkan pertanian seluler dapat berkontribusi terhadap swasembada pangan. Namun, di Indonesia produk ini belum populer karena terbentur pada isu halal.

    Sel yang digunakan dalam produksi daging sintesis dapat bersumber dari: (1) hewan yang masih hidup dan (2) hewan yang sudah disembelih, atau (3) hewan yang barusan mati tanpa disembelih. Berdasarkan sumbernya, maka Fatwa MUI menyatakan bahwa:
    Hukum daging sintesis haram bila sel yang dikultur berasal dari hewan yang masih hidup, karena setiap sel yang diperoleh dari hewan yang masih hidup termasuk kategori bangkai.
    Hukum daging sintesis halal bila sel yang dikultur berasal dari hewan yang halal dan sudah disembelih secara syar’i.

    Dengan sifat organoleptik, cita rasa dan tekstur yang dapat diterima, kesadaran akan manfaat kesehatan, keamanan produk, serta kehalalan produk daging sintesis, maka terobosan teknologi kultur daging dalam menciptakan produk pangan baru ini dapat menjadi solusi dalam terwujudnya sumber pangan berkelanjutan. ***

    Oleh: Titik Handayani
    Mahasiswa Magister Teknologi Pangan, Fateta, Institut Pertanian Bogor

    Editor: Firman Kusmiazi

    Daftar Pustaka

    Kawamura, A., 2022. SIngapore Emerging as a Hub for Cellular Agri-Food Production and Sales, s.l.: Mitsui & Co. Global Strategic Studies Institute (MGSSI).
    United Nations Population Division Data Portal, 2022. [Online] Available at: https://population.un.org/dataportal/home [Accessed 21 Mei 2023].
    United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division, 2022. World Population Prospects 2022. [Online] Available at: https://population.un.org/wpp/Download/Standard/MostUsed/ [Accessed 21 Mei 2023].
    Valoppi, F. et al., 2021. Insight on Current Advances in Food Science and Technology for Feeding the World Population. Frontiers in Sustainable Food Systems, Volume 5, pp. 1-17.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.