Soal Penanganan PKL, Pemkab Bogor Kalah Cerdas dari Swasta

by one 3777 views

CISARUA – Entah sudah berapa rupiah diserap dari APBD Kabupaten Bogor untuk menertibkan pedagang kaki lima di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua. Secara kewajiban memang bisa dikatakan berhasil. Namun nol besar dalam hal penanganan, terutama pasca penertiban.

Puluhan eks PKL Jalan Raya Puncak kini hidup dalam kemelaratan. Mereka kelimpungan karena tak lagi bisa mengais nafkah. Sebab lapak yang semula dijadikan tempat untuk menjajakan dagangannya digusur Satpol PP Kabupaten Bogor.

Janji Pemkab Bogor merelokasi ke tempat layak, tinggal janji. Sampai sekarang tak pernah ditepati. Bicara penataan PKL khususnya di kawasan Puncak, tak ada salahnya Pemkab Bogor belajar dari CV Barokah. Langkah yang diterapkan Anas Bastian pemilik CV Barokah jauh lebih maju dalam menangani PKL di Puncak dibanding Pemkab Bogor.

Warga asli Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua ini, sukses mendirikan rest area di atas lahan sewa seluas 3.400 meter persegi di sebelah kiri Jalan Raya Puncak dari arah Puncak, Desa Kopo, Kecamatan Cisarua. Tepatnya di seberang Hotel Parama, di samping Hotel Pesona Anggraini.

Meski baru dua tahun, rest area CV Barokah yang terluas di sepanjang Jalan Raya Puncak ini cukup sukses. Semua kios yang disediakan mampu menarik minat PKL untuk pindah (relokasi) dari tempat semula berjualan di trotoar dan di atas saluran air.

Manjakan Pengunjung

Rest area tersebut juga mampu menyedot pengunjung dan wisatawan. Terlebih akhir pekan dan hari libur. Lahan parkir yang luas mampu disinggahi puluhan bus pariwisata atau kendaraan roda empat.

Anas Bastian mengatakan, rest area CV Barokah menyediakan kios-kios makanan, hasil bumi pertanian, pusat oleh-oleh, food court, dan berbagai produk UKM dilengkapi dengan fasilitas umum seperti toilet, mushola, dan keamanan.

"Sedikitnya di sini sudah mampu memberdayakan 120 orang tenaga kerja yang notabenenya warga sekitar, dan menampung 60 usaha kecil menengah," kata Anas Bastian kepada wartawan, kemarin.

Anas juga tak sekadar menyediakan rest area. Agar ramai pengunjung dan penghasilan pedagang moncer, ia menerapkan manajemen dan strategi marketing. "Setiap tiga bulan selalu diadakan pengundian doorprize bagi para pengunjung di sini berupa satu unit sepeda motor. Kami juga menjalin kerja sama dengan beberapa PO bus, maupun truk TNI yang biasa membawa rombongan wisatawan ke sini. Kami juga memberikan tips khusus bagi pengemudi busnya. Nominalnya tergantung pada jumlah pengunjung dan omset belanja rombongan yang mereka bawa. Lebih besar omsetnya lebih besar pula persentase buat mereka, begitupun sebaliknya," paparnya.

Anas pun mengaku, dirinya menuangkan ide membangun rest area berawal dari melihat kesemrawutan PKL di kawasan wisata Puncak hingga selalu menjadi polemik antara warga dan pemerintah.

"Karena banyaknya sangkaan bahwa PKL ini melanggar peraturan daerah maka kami terpacu berpikir mencari solusi tanpa ada ekses antara pedagang dengan pihak pemerintah. Dengan komunikasi yang baik bersama mereka, ternyata ini terjawab bahwa mereka mau direlokasi ke kios yang yang sudah kami sediakan. Mereka siap membongkar lapak miliknya yang dulu berjejer ada sekitar 50 lapak pedagang di pinggir jalan di depan lokasi ini," jelasnya.

Kini, sebagian PKL di Puncak jauh lebih tenang dengan kehadiran rest area CV Barokah. Mereka tak merasa was-was lagi lapaknya dibongkar Satpol PP. Taraf ekonomi mereka juga meningkat terlebih hari libur dan akhir pekan.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Satpol PP Kabupaten Bogor dengan garang menertibkan PKL di sepanjang Jalan Raya Puncak, tepatnya dari mulai ruas Batulayang hingga Warung Kaleng. Sisa-sisa puing lapak PKL masih bisa dilihat hingga sekarang. Di satu sisi eks pedagang mengalami kesulitan ekonomi. YUS/ONE (PAKAR)