Paradigma Baru Program CSR

by moun 3346 views

Oleh: David Rizar Nugroho

Pemimpin Redaksi Harian PAKAR

Saya sudah lama tidak menulis di rubrik ini. Tapi hari ini saya harus menulis karena menurut saya tema yang ingin saya tulis menarik. Setidaknya dalam sudut pandang saya. Saya berserta lima Chief Editor surat kabar lokal di Bogor diundang oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, pabrik semen terbesar kedua di Indonesia untuk melihat dari dekat implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) di pabrik Citeureup dan Cirebon. Saya beserta lima kolega saya juga sempat berdiskusi santai dengan Kuky Permana, Direktur Umum dan SDM yang Indocement yang membawahi divisi CSR Indocement. 

Saya dan rombongan langsung diajak ke areal bekas tambang di Quarry D untuk melihat bagaimana Indocement melakukan penghijauan di areal bekas tambang dengan menanami areal tersebut dengan berbagai pohon seperti jarak pagar, jati, pohon cinta dan lain lain. Saya juga diajak melihat sebuah tempat yang disebut Gerakan Masyarakat Mandiri (Gemari) di mana di lokasi itu sejumlah warga desa binaan sedang kursus bengkel motor, kerajinan tangan dan budi daya ikan hias.

Di hari kedua di Cirebon rombongan kecil diajak melihat lokasi P4M yang berada di dalam pabrik. P4M adalah bukan hanya tempat pelatihan untuk wira usaha bagi warga desa binaan tapi juga sebagai tempat riset dan pembiakan untuk jamur, ikan, kemiri, bunga matahari dan sebagainya. Bahkan rumah kaca juga di bangun.

Lebih pas disebut tempat penelitian agribisnis. Saya juga sempat melihat bagaimana perusahaan tersebut membangun lokasi wisata air panas. Kebetulan di dalam areal pabrik ada sumber mata air panas yang mengandung belerang. Ini di bangun menjadi lokasi wisata untuk masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Terakhir saya dan kolega diajak mengunjungi klinik agribisnis yang dibangun oleh sebuah gabungan kelompok tani (gapoktan) binaan Indocement yang telah banyak mengukir prestasi baik tingkat Jawa Barat maupun nasional. Yang sangat mulia, CSR Indocement Cirebon juga membantu dan mengembangkan pengrajin batik Ciwaringin yang menjadi salah satu kearifan lokal di Cirebon.
 
Sungguh mengagumkan yang dilakukan perusahaan ini. Bukan hanya keseriusan, tapi juga ketulusan untuk membangun kemandirian dan keberdayaan warga sekitar. Disaat banyak perusahaan jor joran membangun citra dan reputasi perusahaan dengan memamerkan program CSR ke publik melalui media, Indocement memilih jalan sunyi.
"Buat kami gak penting pencitraan. Yang ingin kami bangun bagaimana warga disini mandiri dan berdaya sampai anak cucu dan cicit," kata Kuky Permana.

Kuky sekalu menurut anak buahnya kreatif dan inovatif untuk membuat terobosan dan program baru. Dia memberi contoh keberhasilan program budi daya jamur di Cirebon. Embrio  jamur dibiakkan di P4M. Setelah menjadi bibit, dicoba dimasukkan dalam kumbung. Dan, ternyata sukses dan memberikan nilai ekonomi. Setelah itu dibangun kumbung-kumbung di beberapa desa binaan ternyata sukses karena dapat menghasilkan keuntungan finansial yang lumayan. 

"Ini salah satu contoh inovasi. Risetnya kita kembangkan di P4M. Setelah sukses kita ajak masyarakat desa binaan mengembangkan Budi daya jamur. Sekarang pembeli datang langsung ke masyarakat untuk membeli produk jamur mereka," jelas Kuky.

Inovasi juga dilakukan oleh CSR Citeureup. Pengembangan pohon jati memang berhasil. Tapi nilai ekonomi baru kelihatan lima belas tahun kemudian. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan mencoba menanam pohon cinta. Permintaan pasar atas pohon ini cukup tinggi karena biasa dipakai sebagai hiasan  pernikahan. Setelah dicoba ditanam ternyata berhasil dan kini sudah panen berkali kali. Pasarnya juga bagus dan nilai ekonomi nya juga tinggi. Artinya, sejumlah warga desa binaan yang terlibat dalam program ini sudah mendapat tambahan penghasilan dengan menanam pohon cinta.

Kuky mengatakan program CSR bukan hanya dinilai dari besaran uang yang dikucurkan. Karena jika besar pun kalau tidak berhasil membangun kemandirian dan keberdayaan percuma saja. Kuky mengakui kegiatan CSR yang bersifat sosial masih dilakukan oleh Indocement. Tapi, ke depan program-program yang membangun kemandirian dan keberdayaan masyarakat dengan basis kearifan lokal akan banyak di support. 

Dia bercerita satu contoh program CSR tak melulu urusan uang. Suatu ketika sungai  di Citeureup banjir hingga dua meter. Bahkan, dirinya turun langsung ke lapangan mengecek penyebab kenapa sungai tersebut banjir. Warga dan aparat desa buru-buru membangun tanggul. Tapi tanggul yang akan dibuat sepertinya tanpa perencanaan dan desain yang pas. Kuky pun meminta bagian sipil Indocement turun ke lapangan untuk membantu membuat desain yang sesuai dan juga rencana anggaran biaya nya. Jadi Indocement menyumbang tenaga ahli, warga desa dan aparat desa logistiknya. Sekarang sungai itu tidak banjir lagi.

Kuky juga bercerita soal kegelisahannya tentang sejarah Citeurup. Kecamatan ini pasti punya sejarah panjang. Akhirnya dibuatkan buku tentang sejarah Citeureup dalam edisi yang sangat luks bahkan Indocement berhasil mendapat foto foto bagaimana atmosfir Citeureup di jaman kolonial Belanda langsung dari Belanda. 
Saya takjub. Ada sebuah perusahaan semen yang peduli dengan kearifan lokal dan mau mengalokasikan dana nya untuk membuat sebuah buku sejarah. Di Cirebon pun, sejarah tentang batik Ciwaringin di dokumentasikan dalam sebuah buku yang sangat luks oleh Indocement.

Ada idealisme, kesungguhan dan ketulusan dari orang orang CSR di Indocement bekerja dengan hati untuk membangun kemandirian dan keberdayaan masyarakat sekitar. Ini bisa berjalan karena juga didukung oleh policy perusahaan. Sebuah paradigma baru tengah dibangun oleh Indocement. Tidak ada yang sempurna memang karena yang dihadapi manusia dengan beragam kepentingan. Tapi, setidaknya Indocement telah menujukkan sebuah tanggungjawab dan kesungguhan membangun masyarakat sekitar yang berkelanjutan.